apa itu arti anak berkebutuhan khusus (ABK) secara umum menurut para ahli
Halo Adik adik bertemu lagi dengan saya admin Edukasi Milenialkembali saya akan berbagi Materi sangat mudah Rangkuman Materi operasi bilangan berpangkat bilangan rasional dan bentuk akar serta sifat - sifatnya
A. Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus
Sekian Materi apa itu anak berkebutuhan khusus secara umum menurut para ahli yang dapat Admin Bagikan .
Jangan Lupa Share Keteman teman Kalian apabila kalian merasa artikel ini sangat bermanfaat untuk kalian.
selalu kunjungi Edukasi Milenial Untuk Materi Yang Lainnya
ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
A. Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus
pengertian anak berkebutuhan khusus dimulai dari pema-haman yang utuh tentang beberapa peristilahan yang saling terkait satu sarna lain. Untuk memahami sesuatu dengan benar dan jelas harus dimulai dengan penggunaan terminologi yang benar dan jelas pula sehingga sejalan dengan paradigma yang digunakan. Perubahan paradigma yang terjadi membawa implikasi pada penggunaan istilah atau terminologi. Istilah apapun yang digunakan akan berpengaruh terhadap cara kita berpikir dan memandang sesuatu. Individu yang kondisinya berbeda dan menyimpang dari orang kebanyakan sering diberi label atau stigma yang tidak tepat kepada mereka (penyandang cacat). Label atau stigma yang digunakan untuk menggambarkan individu yang menyandang kecacatan, sering menimbulkan kesulitan dan masalah yaitu bahwa semua orang penyandang cacat dianggap sarna. Ekpresi seperti tuli, buta, autisme, dileksia, dan sebagainya mengandung makna bahwa mereka dianggap sebagai kelompok yang
homogen. Akan tetapi dalam kenyataannya, orang-orang yang,dikelompokkan menjadi satu kelompok menurut label tertentu itu mempunyai perbedaan yang sangat besar antara individu satu dengan individu yang lainnya.
Berangkat dari permasalahan pelabelan tersebut, maka paradigma Pendidikan Kebutuhan Khusus sangat menghindari cara menggambarkan kondisi individu berdasarkan label atau stigma yang didasarkan atas pengelompokkan kecacatan (disability). Oleh karena itu cara yang digunakan adalah berdasarkan pada prinsip melihat individu sebagai manusia, baru kemudian melihat kecacatannya. Manakala kita berhadapan dengan kenyataan kecacatan tertentu, maka sangat bijaksana apabila kita mengatakan a person with disability atau person who has disability daripada mengatakan a disabled person (penyandang cacat daripada orang cacat). Dengan mengatakan penyandang cacat (person who..... or person with) terkandung makna bahwa kecacatan merupakan sebuah ciri atau karakteristik kemanusiaan dari seseorang. Di samping itu, penggunaan terminologi yang berkaitan dengan pendidikan kebutuhan khusus juga perlu dipahami dengan benar. Istilah tersebut antara lain impairment, disabilities, dan handicaps. Ketiga istilah tersebut sering dipertukarkan dalam penggunaannya seharihari. Istilah impairment didefinisikan sebagai kehilangan, kerusakan atau ketidaklengkapan dari aspek. psikologis, fisiologis atau ketidaklengkapanjkerusakan struktur anatomi. Impairment biasanya merujuk kepada kondisi yang bersifat medis atau organis (Foreman, 2001; Lewis, 1997), seperti rabun dekat, cerebral palsy, spina bifida, down syndrome, atau tuli. Istilah disabilities (ketidakmampuan) adalah keterbatasan atau hambatan yang dialami oleh seorang individu sebagai akibat dari impairment (kerusakan) tertentu.
Sebagai contoh: karena kerusakan (impairment) spina bifida, seorang anak mengalami kesulitan atau hambatan untuk berjalan tanpa bantuan kruk. Kerusakan pada fungsi pendengaran (hearing impairment), mengakibatkan seorang individu mengalami kesulitan atau hambatan berkomunilasi dengan menggunakan bahasa secara verbal (Foreman, 2001). Istilah handicaps diartikan sebagai ketidakberuntungan (disadvantage) pada seorang individu sebagai akibat dari impairment (kerusakan) atau disability (ketidakmampuan) yang membatasi atau menghambat seseorang dalam menjalankan peranannya (tergantung kepada jenis kelainan, usia, dan faktor sosial budaya) secara sosial. Mereka memerlukan layanan yang bersifat khusus dalam pendidikan, agar hambatan belajamya dapat dihilangkan sehingga kebutuhan-nya dapat dipenuhi.
Istilah anak berkebutuhan khusus memiliki cakupan yang sangat luas. Dalam paradigma pendi-dikan kebutuhan khusus keberagaman anak sangat dihargai. Setiap anak memiliki latar belakang kehidupan budaya dan perkembangan yang berbeda-beda, oleh karena itu setiap anak dimungkinkan akan memiliki kebutuhan khusus serta hambatan belajar yang berbeda pula, sehingga setiap anak sesungguhnya memerlukan layanan pendidikan yang disesuaikan dengan hambatan belajar dan kebutuhan masing-masing anak. Anak berkebutuhan khusus dapat diartikan sebagai seorang anak yang memerlukan pendidikan yang disesuaikan dengan hambatan belajar dan kebutuhan masingmasing anak secara individual. Cakupan konsep anak berkebutuhan khusus dapat dikategorikan menjadi dua kelompok besar yaitu anak berkebutuhan khusus yang bersifat sementara (temporer) dan anak berkebutuhan khusus yang bersifat menetap (permanen). Istilah anak berkebutuhan khusus oleh sebagian orang dianggap sebagai padanan kata dari istilah anak luar biasa atau anak berkelainan atau anak penyandang cacat. Anggapan tersebut tidak tepat, sebab pengertian anak berkebutuhan khusus mengandung makna yang lebih luas, yaitu anak-anak yang memiliki hambatan perkem-bangan dan hambatan belajar termasuk di dalamnya anak-anak penyandang cacat).
2. Anak Berkebutuhan Khusus Bersifat Menetap (Permanen)
Anak berkebutuhan khusus yang bersifat permanen adalah anak-anak yang mengalami hambatan belajar dan hambatan perkembangan yang bersifat internal dan akibat langsung dari kondisi kecacatan, yaitu seperti anak yang kehilangan fungsi penglihatan, pendengaran, gangguan perkembangan kecerdasan dan kognisi, gannguan gerak (motorik), gangguan interaksi-komunikasi, gangguan emosi, sosial dan perilaku. Dengan kata lain anak berkebutuha khusus yang bersifat permanen sarna artinya dengan anak penyandang kecacatan. Istilah anak berkebutuhan khusus bukan merupakan kata lain dari anak penyandang cacat, tetapi anak berkebutuhan khusus mencakup spektrum yang luas yaitu meliputi anak berkebutuhan khusus temporer dan anak berkebutuhan khusus permanen (penyandang cacat). Oleh karena itu apabila menyebut anak berkebutuhan khusus selalu harus diikuti ungkapan termasuk anak penyandang cacat. Jadi anak penyandang cacat merupakan bagian atau anggota dari anak berkebutuhan khusus. Oleh karena itu konsekuensi logisnya adalah lingkup garapan pendidikan kebutuhan khusus menjadi sangat luas, berbeda dengan lingkup garapan pendidikan khusus yang hanya menyangkut anak penyandang caeat (penyandang disabilitas).
3. Hambatan Belajar dan Hambatan Perkembangan
Paradigma pendidikan khusus (Pendidikan Luar Biasa) menekankan bahwa label kecacatan dan karakteristiknya lebih menonjol dan dijadikan patokan dalam memberikan layanan pendidikan dan intervensi. Anak yang memiliki kecacatan tertentu dipandang sebagai kelompok yang memiliki karakteristik yang sarna. Cara pandang ini menghilangkan eksistensi anak sebagai individu. Anak-anak yang didiagnosis sebagai anak penyandang cacat tertentu (misalnya tunanetra) diperlakukan dalam pembelajaran dengan cara yang sarna berdasarkan label kecacatannya. Cara pandang seperti ini lebih mengedepankan aspek identitas kecacatan yang dimiliki dari pada aspek individu anak sebagai manusia. Pendidikan khusus/Pendidikan Luar Biasa (special education) lebih banyak rnenggunakan diagnosis untuk menentukan label kecacatan. Berdasarkan label itulah layanan pendidikan diberikan dengan cara yang sarna pada semua anak yang rnemiliki label kecacatan yang sarna, dan tidak rnernpertirnbangkan aspek-aspek lingkungan dan faktor-faktor dalam diri anak. Sebagai contoh jika hasH diagnosis rnenunjukkan bahwa seorang anak dikategorikan sebagai anak autisme, rnaka sernua anak autisrne akan diperlakukan dengan cara dan pendekatan yang sarna berdasarkan label dan karakteristiknya. Dalarn paradigma pendidikan kebutuhan khusus (special needs education), anak yang mernpunyai kebutuhan khusus baik yang bersifat temporer rnaupun yang bersifat perrnanen akan berdampak langsung kepada proses pernbelajaran, dalam bentuk harnbatan untuk rnelakukan kegiatan belajar (barrier to learning and development). Hambatan belajar dan harnbatan perkernbangan dapat rnuncul dalam banyak bentuk, untuk rnengetahui dengan jelas hambatan belajar, hambatan perkembangan dan kebutuhan yang dialami oleh seorang anak sebagai
B. Penyebab Terjadinya Kebutuhan Khusus
Tidak ada faktor tunggal penyebab terjadinya kebutuhan khusus. Ada beberapa faktor yang saling memberi sumbangan, sehingga ada tiga faktor yang diidentifikasi sebagai penyebab timbulnya kebutuhan khusus pada seorang anak yaitu: 1) faktor internal pada diri anak, 2) faktor ekternal dari lingkungan dan, 3) kombinasi dari faktor internal dan eksternal. Faktor internal merupakan kondisi yang dimiliki oleh anak yang bersangkutan. Sebagai contoh seorang anak memiliki kebutuha khusus dalam belajar karena ia tidak bisa melihat, tidak bisa mendengar, atau tidak mengalami kesulitan untuk begerak. Keadaan seperti itu berada pada diri anak yang bersangkutan secara internal. Dengan kata lain hambatan yang dialami berada di dalam diri anak yang bersangkutan. Faktor eksternal merupakan kondisi yang berada di luar diri anak yang mengakibatkan anak menjadi memiliki hambatan perkembangan dan hambatan belajar, sehingga mereka memiliki kebutuhan layanan khusus dalam pendidikan. Sebagai contoh seorang anak yang mengalami kekerasan di rumah tangga dalam jangka panjang mengakibatkan anak tersebut kehilangan konsentrasi, menarik diri dan ketakutan. Akibantnya anak tidak tidak dapat belajar.
Jangan Lupa Share Keteman teman Kalian apabila kalian merasa artikel ini sangat bermanfaat untuk kalian.
selalu kunjungi Edukasi Milenial Untuk Materi Yang Lainnya
Post a Comment for "apa itu arti anak berkebutuhan khusus (ABK) secara umum menurut para ahli "